Senin, 06 Oktober 2008

POLITISASI AGAMA

Jalaludin Rackhmat menyatakan kegusarannya demi melihat spanduk-spanduk dan poster-poster yang bertebaran di seantero kota. Lho, emang spanduk apa? Itu tuh... Spanduk ucapan selamat Idul Fitri. Lho, orang mau ngucapin selamat hari raya koq musti digusarin? Bukan begitu. Masalahnya spanduk ucapan selamat itu dibuat oleh partai politik atau caleg-caleg yang mau maju di 2009. Mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk pasang muka tebar pesona dimana-mana.

Kegusaran Pak Jalal memang beralasan. Hari Raya adalah saat dimana seharusnya orang melupakan kepentingan duniawinya untuk lebih banyak berpikir tentang spiritualitas. Hari besar agama adalah waktu untuk berkontemplasi dan mendekatkan diri dengan yang Ilahi. Tidak sepantasnya dikotori dengan nafsu rakus untuk mendapatkan kekuasaan, dalam hal ini mengiklankan diri dengan spanduk dan poster.

Bukan saja melukai spiritualitas, spanduk dan poster bergambar foto tak menarik (lumayan kalo foto artis, hiks...) itu juga tidak estetis sama sekali. Pemasangannya yang cenderung sembarangan dengan tali-tali mengotori pemndangan.

Ironisnya, waktu kampanye masih cukup panjang. Masih banyak hari raya keagamaan yang akan muncul. Dan tentu saja ini kesempatan bagi mereka untuk bikin kotor lagi. Yang perlu dilakukan oleh umat beragama adalah melakukan gerakan cuek atau acuh nasional barangkali agar mereka kapok. Tapi mana mereka bisa kapok?***

Tidak ada komentar: