PARTAI-PARTAI 'SEMPALAN'
Benarlah bahwa tidak ada kawan atau lawan abadi dalam politik. Yang ada hanyalah kepentingan abadi. Tak heran jika kepentingannya tak terakomodir, kemudian ramai-ramai bikin partai baru.
Dulu Roy BB Janis selalu runtang-runtung dengan Mbak Mega. Siapa sangka kalau kemudian ia dan Laksamana Sukardi, yang juga orang dekat Mega, kemudian menyempal dan mendirikan PDP (Partai Demokrasi Pembaruan). Warna latarnya boleh sama merah, lambangnya sama-sama banteng, tapi PDP mengaku lebih 'baru' dari PDIP. Eros Jarot malah sudah lebih dulu mendirikan PNBK dengan berbagai varian akronim. Mulai dari Partai Nasionalis Bung Karno, Partai Nasional Banteng Kemerdekan hingga Partai Nasional Benteng Kerakyatan. Eros dulu dikenal sebagi konseptor pidato Mbak Mega.
Ada juga Partai Matahari Bangsa (PMB) yang lahir dari 'kandungan' Muhamadiyah. Dibanding dengan PAN, kakak kandungnya, PMB lebih memilih warna latar merah meski tetap saja matahari terbit yang menjadi lambangnya. Konon Din Syamsudin memberi restu terhadap partai ini. Tapi PAN tampaknya bergeming. Partai yang dibidani Amin Rais ini justru sedang gencar mencalegkan artis. Mungkin anjing yang menggonggong, tidak mengganggu hidup adalah perbuatan. Hmm...
Meski tak jujur mengaku, tampaknya Hanura dan Gerindra adalah partai yang menyempal dari Golkar. Wiranto dan Prabowo sama-sama pernah ikut konvensi capres dari Partai Beringin ini di pemilu 2004 yang lalu. Wiranto banyak menggandeng purnawirawan TNI di jajaran pengurus, yang sebagian di antaranya pernah menjadi petinggi Golkar.
Akankah partai-partai sempalan berhasil menyedot partai yang 'digembosi'? Adakah masing-masing akan tercapai kepentingannya? Kita tunggu saja kiprahnya.***
Kamis, 16 Oktober 2008
Senin, 06 Oktober 2008
POLITISASI AGAMA
Jalaludin Rackhmat menyatakan kegusarannya demi melihat spanduk-spanduk dan poster-poster yang bertebaran di seantero kota. Lho, emang spanduk apa? Itu tuh... Spanduk ucapan selamat Idul Fitri. Lho, orang mau ngucapin selamat hari raya koq musti digusarin? Bukan begitu. Masalahnya spanduk ucapan selamat itu dibuat oleh partai politik atau caleg-caleg yang mau maju di 2009. Mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk pasang muka tebar pesona dimana-mana.
Kegusaran Pak Jalal memang beralasan. Hari Raya adalah saat dimana seharusnya orang melupakan kepentingan duniawinya untuk lebih banyak berpikir tentang spiritualitas. Hari besar agama adalah waktu untuk berkontemplasi dan mendekatkan diri dengan yang Ilahi. Tidak sepantasnya dikotori dengan nafsu rakus untuk mendapatkan kekuasaan, dalam hal ini mengiklankan diri dengan spanduk dan poster.
Bukan saja melukai spiritualitas, spanduk dan poster bergambar foto tak menarik (lumayan kalo foto artis, hiks...) itu juga tidak estetis sama sekali. Pemasangannya yang cenderung sembarangan dengan tali-tali mengotori pemndangan.
Ironisnya, waktu kampanye masih cukup panjang. Masih banyak hari raya keagamaan yang akan muncul. Dan tentu saja ini kesempatan bagi mereka untuk bikin kotor lagi. Yang perlu dilakukan oleh umat beragama adalah melakukan gerakan cuek atau acuh nasional barangkali agar mereka kapok. Tapi mana mereka bisa kapok?***
Jalaludin Rackhmat menyatakan kegusarannya demi melihat spanduk-spanduk dan poster-poster yang bertebaran di seantero kota. Lho, emang spanduk apa? Itu tuh... Spanduk ucapan selamat Idul Fitri. Lho, orang mau ngucapin selamat hari raya koq musti digusarin? Bukan begitu. Masalahnya spanduk ucapan selamat itu dibuat oleh partai politik atau caleg-caleg yang mau maju di 2009. Mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk pasang muka tebar pesona dimana-mana.
Kegusaran Pak Jalal memang beralasan. Hari Raya adalah saat dimana seharusnya orang melupakan kepentingan duniawinya untuk lebih banyak berpikir tentang spiritualitas. Hari besar agama adalah waktu untuk berkontemplasi dan mendekatkan diri dengan yang Ilahi. Tidak sepantasnya dikotori dengan nafsu rakus untuk mendapatkan kekuasaan, dalam hal ini mengiklankan diri dengan spanduk dan poster.
Bukan saja melukai spiritualitas, spanduk dan poster bergambar foto tak menarik (lumayan kalo foto artis, hiks...) itu juga tidak estetis sama sekali. Pemasangannya yang cenderung sembarangan dengan tali-tali mengotori pemndangan.
Ironisnya, waktu kampanye masih cukup panjang. Masih banyak hari raya keagamaan yang akan muncul. Dan tentu saja ini kesempatan bagi mereka untuk bikin kotor lagi. Yang perlu dilakukan oleh umat beragama adalah melakukan gerakan cuek atau acuh nasional barangkali agar mereka kapok. Tapi mana mereka bisa kapok?***
Langganan:
Postingan (Atom)